BIZ NET NEWS

Buka Invest dan Jadi Miliarder Sekejap, Mahasiswi PTN Ini Masuk Bui

BIZ NEWS – Belakangan, Ploso Lebak kembali populer. Bukan karena soal banjirnya itu. Tapi, karena ada skandal investasi ilegal. Putaran uangnya disebut-sebut mencapai puluhan miliar rupiah. Korbannya kalangan menengah ke atas. Masih muda-muda. Mereka berasal dari Lamongan, Gresik, Tuban, Surabaya, Bojonegoro hingga Malang.

Nah, aktor intelektualnya berasal dari kampung itu. Ploso Lebak. Namanya, Samudra Zahrotulbilad. Perempuan muda. Baru berusia 21 tahun. Tercatat sebagai mahasiswa D-3 Kepariwisataan perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Surabaya. Kartu tanda mahasiswa (KTM) pun masih aktif hingga Agustus 2023.

Cerita investasi abal-abal itu tidak kalah menarik dengan kasus di Gorontalo. Yang melibatkan sejumlah oknum polisi setempat itu. Modusnya juga tidak jauh beda. Menarik banyak member untuk diajak berinvestasi, diimingi-imingi profit atau untung gede, ujung-ujungnya tipu-tipu.

Sistemnya, hanya gali lubang tutup lubang. Member get member (MGM). Pelaku cuma memutar duit yang masuk dari para anggota. Tidak diinvestasikan seperti rayuan gombalnya.

Informasi yang dihimpun dari Radar Bojonegoro Jawa Pos Grup, di kampungnya, Bilad—begitu biasa dipanggil—bukan orang luar biasa. Biasa-biasa saja. Tidak kaya. Rumahnya juga tidak mentereng. Sederhana. Seperti rumah di kampung pada umumnya. Hanya, Bilad dikenal humble. Meski perempuan, Bilad juga dikenal sebagai suporter mania sepak bola. Jejaring sosialnya lumayan luas.

Cerita bermula sekitar Oktober 2021 lalu. Entah mendapat ide dari mana, Bilad membuka sebuah grup WhatsApp. Namanya, Invest Yuk. Ibarat sebuah perusahaan, Bilad menjadi owner. Lalu, dia menggandeng sejumlah orang. Untuk menjadi reseller atau kaki-tangannya.

Beberapa temannya pun tertarik. Mau menjadi reseller. Sebagian rekan asal kampusnya. Maklum, ada sharing profit. Besarnya lumayan. Mereka ada yang dari Lamongan dan Tuban.

Para reseller itupun getol berpromosi. Berlomba menggaet member. Sebanyak-banyaknya. Baik dengan cara dari mulut ke mulut maupun promosi lewat media sosial. Semakin banyak member, makin besar pula profit yang didapat. Dari Bilad sebagai owner.

Diperkirakan total ada ratusan, bahkan mungkin ribuan orang, yang terjaring perangkap Invest Yuk. Namun, nama-nama member itu ada di tangan reseller. Bilad mengaku tidak tahu pasti. Begitu banyak orang tertipu.

Dalam Invest Yuk, Bilad membuka sejumlah tawaran dengan sistem slot seperti arisan. Yang membuat banyak orang ngiler, hanya dalam waktu 10 hari, profit yang didapat member bisa mencapai 50 persen. Nah, reseller kebagian 10 persennya. Ada juga bonusnya.

Misalkan, member setor uang Rp 1 juta. Hanya dalam sepuluh hari, Bilad memberikan profit sebesar Rp 500 ribu. Yang Rp 100 ribu untuk reseller-nya dan Rp 400 ribu untuk member.

Jadi, semakin banyak uang yang disetor, makin banyak pula profit yang dijanjikan. Bagi reseller pun, semakin banyak menggaet member, semakin banyak pula iming-iming bagi hasilnya. Apalagi, sebagian dari reseller tersebut ada juga yang menjadi member.

Dalam sekejap, hidup Bilad pun berubah 180 derajat. Bak sultan. Uang miliaran rupiah masuk ke rekeningnya. Sejumlah mobil, perhiasan, dan rumah mewah dibeli. Bilad bukan lagi sekelas warga Ploso Lebak. Tapi, berubah menjadi crazy rich baru asal Lamongan. Penampilannya pun kian meyakinkan. Sejumlah barangnya bermerek. Smartphone-nya iPhone 13 Pro Max.

Di awal-awal, pencairan profit ke member berjalan lancar. Jumlah member kian bertambah. Cerita dari mulut ke mulut, begitu cepat tersebar. Meluas. Dengan pencairan itu, orang makin percaya bahwa Invest Yuk bukan abal-abal.

Ibarat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Selicin-licinnya Bilad bersilat lidah untuk menutup tabir kepalsuannya, akhirnya ketahuan juga.

Beberapa bulan kemudian, pencairan profit berjalan seret. Sejumlah reseller dan member pun mulai mencium gelagat busuk Invest Yuk. Janji-janji manis itu berubah jadi getir. Jangankan profit, uang pokok pun tak bisa ditagih.

Sejumlah korban pun gusar. Mereka melapor ke polisi. Pengaduan itu langsung direspon. Tidak lama, tepatnya pada 9 Januari 2022, Polres Lamongan bergerak. Saat itu, Bilad menggelar rapat di Jalan Sunan Giri, Lamongan. Sejumlah member meminta pertanggungjawaban. Nyaris ribut. Polisi lantas menggelandang Bilad ke Mapolres. Jadi tersangka dan langsung ditahan.

Polisi lantas menelusuri aset-aset Bilad. Dua mobil Honda Brio dan Toyota Raize disita. Demikian juga rumah dengan harga hampir Rp 1 miliar. Lokasinya di Perumahan Zam-Zam Lamongan. Hidup Bilad pun tidak lagi mengkilat. Kini, dia menjalani hari-hari sepi di sel tahanan Mapolres Lamongan.

Menurut Kapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana, tersangka dijerat pasal 378 dan atau pasal 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan. Ancaman hukumannya 4 tahun penjara.

Sejumlah kaki-tangan Bilad pun ikut diburu polisi. Baik di Lamongan maupun di Tuban. Beberapa di antaranya sudah ditahan. Para tersangka itu bukan hanya terancam jerat pidana. Namun, juga perdata. Korban-korban tetap berjuang untuk dapat menarik kembali uangnya.

Cerita pilu para korban juga tidak kalah menerenyuhkan. Ada pasutri gegeran bahkan terancam bercerai karena uang simpanannya masuk ke investasi bodong itu. Ada juga perempuan muda yang uang untuk persalinan bayinya tersedot untuk ke Invest Yuk tersebut. Berharap untung, malah buntung.

Sejatinya, modus tipu-tipu ala Invest Yuk tersebut bukan barang baru. Sudah sejak lama ada. Itulah yang dinamakan skema Ponzi. Yakni, modus investasi palsu. Membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya. Bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.

Skema tersebut kali pertama dicetuskan Charles Ponzi asal Italia. Lalu, menjadi terkenal pada 1920. Praktik dan jenis Iming-imingnya beragam. Namun, skemanya sama. Seperti dilansir dari website waspadainvestasi.ojk.go.id, satgas waspada investasi sudah memberikan tips untuk menghindari tindak penipuan skema Ponzi dengan cek 2 L. Yakni, legal dan logis.

L yang pertama, aspek legal. Artinya, publik harus mengecek aspek legalitas perizinan badan usaha yang menawarkan investasi. Mulai izin badan hukum, izin kegiatan, serta izin produk.Lalu, L yang kedua, memeriksa sisi logis investasi tersebut. Misalnya, melihat rasionalitas pembagian imbal hasilnya. Jika pembagian keuntungannya terlalu fantastis, maka layak dipertanyakan.

 

[JawaPos]

Tinggalkan Balasan