BIZ HOBBY BIZ KAKI LIMA BIZ KULINER BIZ RESTO NEWS

Kopi Sumba Jadi Roma, Fine Robusta yang Bikin Hidup Komunitasnya Extra Fine

BIZ KULINER – Sumba identik dengan padang rumput, kuda, pantai serta kain-kain tenun yang cantik, kadang kampung-kampung adat terselip disela-selanya. Ini tentunya ada wajah dan ekspresi pengunggah, baik close up, menoleh atau pun menengadah menjadi pusatnya. Itu adalah potret Sumba yang biasa pop up di sosial media.

Tetapi, Sumba lebih dari itu. Kehangatan serta tekad kerasnya, mewujud dalam banyak hal, salah satunya kopi Sumba dari Desa Kadi Roma, Wewewa, Sumba Barat Daya.

Kopi Sumba bukan hanya sekedar kopi, tetapi memiliki kualitas prima yang sayangnya belum dinikmati oleh banyak orang. Wajah Pak Desa Kadi Roma, Martinus Ngongo langsung semangat saat bercerita tentang kopi mereka yang mendapatkan predikat fine robusta. “Dulu kopi kami hanya dihargai 15.000 rupiah per kilo, jadi kami agak malas mengurus kebun. Paling kopi hanya untuk dikonsumsi sendiri saja.” jelas Pak Desa.

Begini Cara Mendapatkan Merchandise BTS X Built NY di Outlet Kopi Kenangan

Tetapi setelah ada pendampingan dari Program Teknologi Tepat Guna LIPI sejak 2016, masyarakat desa Kadi Roma kembali bergairah mengurus kebun, terlebih setelah melalui proses menerapkan sistem pertanian yang baik pada kebun kopi mereka, serta pengolahan yang tepat pasca panen hingga kualitas kopi mereka meroket dan dihargai menjadi Rp. 55.000,- per kg.

Kopi Sumba dari Kadi Roma telah memenangkan lomba cita rasa kopi pada Festival Kopi Nusantara 2017 dengan nilai 86,76 pada sistem penilaian “Score cupping Test Specialty” dan menjadi kopi robusta paling enak di Indonesia saat itu.

Kopi yang memiliki keunikan dengan adanya rasa coklat dan after taste yang enak juga berhasil menyabet peringkat kedua kontes Internasional pada tahun yang sama. “Fine Robusta atau robusta unggulan adalah peringkat teratas kualitas citarasa unggulan kopi robusta, seperti juga Specialty yang menandakan keunggulan kualitas kopi Arabika.”

Obrolan tentang perjalanan Kopi Kadi Roma pun ditemani oleh secangkir kopi unggulan ini.. “Memang beda rasa kopi ini, setelah dia diurus baik, kami juga makin senang menikmatinya.” Tambah Pak Desa. Mama Desa, Debora Dappa, menjelaskan bagaimana dia juga kerap mengajak mama-mana di desanya dan juga desa lainnya untuk ikut mengurus kebun kopi dengan baik.

Rapat Umum Asosiasi Eksportir Dan Industri Kopi Indonesia

“Kalau bukan untuk kita sekarang , setidaknya nanti dinikmati oleh anak cucu kita.” Ungkapnya sambil melakukan sortasi biji-biji kopi dengan trampil. Anak sulungnya Daud, juga sudah terlibat aktif mengurus kopi di kebun, selain bekerja sebagai pegawai.

“Hamparan kebun kopi di Desa Kadi Roma hanya sedikit, sementara permintaan kian banyak karena kualitasnya sudah teruji. Kalau masyarakat desa lain ikut menanam dengan cara yang sama yang kami lakukan artinya makin banyak yang bisa mendapatkan manfaatnya” tambah Mama Desa lagi.

Di Wewewa Tengah ada 19.200 keluarga yang menanam kopi di kebun mereka, dengan usia pohon kopi rata-rata lebih dari 20 tahun dan produktivitas rendah. Tanaman kopi sudah lama dimiliki masyarakat Kadi Roma, selama ini tantangannya adalah jamur batang yang bisa mematikan tanaman, serangan hama, dan kesulitan air. Sentuhan teknologi tepat guna ternyata dapat membantu petani untuk meningkatkan kualitasnya.

“Kami melakukannya peremajaan pohon kopi secara secara bertahap, karena kalau langsung ganti semua pohon kopi biayanya mahal dan tidak berani juga langsung menebang semua kopi yang ada di kebun. “ papar Mama Desa. Tetapi, sedikit demi sedikit hasil panen meningkat, demikian juga kualitas kopi nya.

Harum kopi Kadi Roma dan Peran Perempuan

Samer Daboul on Pexels
Samer Daboul on Pexels

Para perempuan memang tampak menonjol dalam rantai nilai Kopi fine Robusta di desa Kadi Roma ini. Pada saat awal proses LIPI menggandeng UKM Lembah Hijau, yang kini menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Lembah Hijau untuk mengajak petani kopi di khususnya Desa Kadi Roma, Elizabeth Malo, seorang pensiunan guru yang juga memiliki kebun kopi menjadi ketua kelompok. KSU Lembah Hijau diproyeksikan menjadi gerbong untuk menarik 187 UKM lain di sekitarnya.

Ketekunannya Elizabeth Malo mengajak para petani untuk bersama-sama belajar serta mengolah kopi dengan cara baru telah membuahkan hasil. Di usia senior, Mama Elizabeth juga belajar semua tahap, dari sortasi, sangria hingga penyajian.

Para petani kopi dengan bimbingan teknis dari LIPI, kini hanya memanen biji kopi yang merah, memprosesnya dengan penjemuran, fermentasi, melakukan sortasi biji. Diajarkan juga cara menggoreng dengan suhu yang tepat agar mencapai tingkat kematangan yang pas dan tidak gosong serta menyeduhnya dengan suhu air sekitar 80-85 derajat. Termasuk dalam penyajiannya juga diajarkan tanpa gula.

Pada awalnya KSU Lembah Hijau dengan merek Aroma Kopi Sumba hanya menyangrai 20 kg kopi sehari, dan mengemas dalam dua varian yaitu kopi asli dan kopi jah. Pemasaran pun hanya ke kios-kios dan toko di Sumba Barat Daya. Namun kini, mereka kewalahan memenuhi permintaan, setelah kualitas kopi mereka diakui.

Oma Elizabeth, ditemani oleh Sonetha Mallo, anak muda sarjana matematika yang memilih fokus ke pemasaran kopi desanya terutama yang berkualitas Fine Robusta bahu membahu mempromosikan Kopi Sumba Kadi Roma. Padahal Netha sudah ditawarkan untuk mengajar di satu sekolah.

“Biar tambah maju Kopi Kadi Roma,” Tambahnya. Dia sekarang juga mengembangkan anyaman pandan yang diharapkan dapat dibundling dengan Kopi Kadiroma sehingga dapat menambah nilai anyaman dan kopi Kadi Roma.

Robusta Kopi Rakyat

FINE robusta, baru dikembangkan tahun 2004 oleh para peneliti di Uganda untuk menunjukkan bahwa kopi Robusta juga berkualitas asalkan diurus dengan benar. Jenis kopi robusta memang berasal dari Afrika Barat dan tumbuh pada dataran yang lebih rendah dan suhu lebih tinggi.

Rodolfo on Pexels
Rodolfo on Pexels

Kopi Robusta kerap dianggap memiliki kualitas lebih rendah dibanding kopi arabica. Tetapi dengan perawatan tanaman dan proses yang baik termasuk penerapan fermentasi laiknya proses pengolahan kopi arabica, kopi robusta juga bisa menjadi kopi spesial.

Di Indonesia, 95 persen kopi berasal dari perkebunan rakyat dengan 80% total produksinya adalah jenis Robusta. Kopi Robusta jauh lebih mudah untuk ditanam dan dirawat, juga lebih tahan terhadap suhu yang panas, sehingga bisa beradaptasi dengan perubahan iklim yang kian menyulitkan petani untuk menanam kopi Arabica.

Meski saat ini, hanya lima persen diantaranya yang diperkirakan merupakan fine robusta. Jika makin banyak petani yang menerapkan praktek penanaman kopi berkualitas, akan makin bertambah pula pendapannya. Konsumen pun semakin mudah mendapatkan kopi lokal berkualitas.

Kalau ingin secangkir kopi strong, full-bodied, dengan kadar kafein tinggi , Robusta menjadi jawabannya, apalagi Kopi Fine Robusta Kadi Roma dari Wewewa, Sumba Barat Daya. Kalau Ke Sumba, jangan lupa ya untuk menikmati kopi juara ini dan bawa pulang sebagai salah satu penanda kehangatan Sumba.

 

Sumber: Indonesia Berseru

Tinggalkan Balasan